Keutamaan Al Qur_an

No comments:

Keutamaan Al Qur_an
*===========*

�� Dari Ibnu Mas'ud _radhiyallahu 'anhu_ berkata:
Rasulullah _shalallahu alaihi wasallam_ bersabda:

«من قرأ حرفا من كتاب الله فله حسنة، والحسنة بعشرة امثالها، فلا اقول آلم حرف ولكن الِفٌ حرف، ولام حرف، وميم حرف».

_"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya kebaikan dan sepuluh kali lipat lagi kebaikan darinya, aku tidak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, akan tetapi Alif adalah satu huruf, Laam adalah satu huruf dan Miim adalah satu huruf."_
____
HR. At Tirmidzi (2835)

▪ Berkata Abdullah bin Mas'ud _radhiyallahu 'anhu_:

«من كان يحب أن يعلم أنه يحب الله، فليعرض نفسه على القرآن، فإن أحب القرآن فهو يحب الله فإنما القرآن كلام الله».

_"Barangsiapa yang senang untuk mengetahui apakah ia mencintai Allah maka hendaklah ia perhadapkan dirinya dengan Alquran, jika ia mencintai Alquran maka ia sungguh mencintai Allah, karena Alquran adalah Kalamulloh. "_
______
�� Tazkiyatun Nufus (1/39)

▪ Berkata Syeikh Ibnu Baaz _rahimahullah_:

«أحسن كتاب، وأعظم كتاب، وأصدق كتاب، يجب أن يُقرأ في تعليم العقيدة، والأحكام، والأخلاق، "هو كتاب الله"».

_" Kitab yang terbaik, kitab yang teragung, kitab yang paling benar, yang wajib untuk dibaca didalam mempelajari aqidah, hukum-hukum, akhlaq >>> adalah Kitabullah. "_
_______
�� Majmu' Al Fatawa (7/70)

▪ Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah _rahimahullah_:

«ما رأيت شيئاً يُغذي العقل والروح، ويحفظ الجسم، ويضمن السعادة، أكثر من إدامة النظر في كتاب الله تعالى».

_" Aku tidak pernah melihat suatu perkara yang lebih menyehatkan akal dan ruh serta menjaga tubuh dan terkandung didalamnya kebahagiaan yang lebih banyak manfaatnya dari memperhatikan Kitab Allah ta'ala."_
______
�� Majmu' Al Fatawa (7/493)

▪ Beliau juga berkata:

«فالمؤمن إذا سمع القرآن، وعقله، وتدبره، بان أثره عليه، فشُبّه بالبلد الطيب».

_"Maka seorang mukmin itu jika mendengarkan Alquran serta memahami dan mentadabburi nya maka akan memberikan pengaruh bagi dirinya, dan Allah perumpamakan ia dengan negeri yang baik. "_
_______
��  Ba'da_i'ut Tafsiir (1/410)

▪Berkata Syeikh Ibnu 'Utsaimin _rahimahullah_:

«مهما طلبت من الأطباء أن يزول عنك ما في قلبك فلن تجد مثل القرآن» .

_" Bagaimanapun engkau mencari pada dokter ahli untuk mengobati penyakit hatimu maka tidaklah ada yang semisal Alquran.*_
______
�� Syarhul Kafiyah Asy Syafiyah (1/198)

▪Berkata Ibnu Jauzy _rahimahullah_:

«تلاوة القرآن تعمل في أمراض الفؤاد ما يعمله العسل في علل الأجساد».

_"Bacaan Alquran berfungsi menyembuhkan penyakit hati seperti madu menyembuhkan penyakit tubuh. "_
________
�� At Tabshiroh (79)

✍�� Ust Fauzan Abu Muhammad Al Kutawy
_____________________

LARANGAN MENYAMPAIKAN HADITS/ BERITA TANPA MEMPERJELAS KEBENARAN HADITS/ BERITA TERSEBUT

No comments:

LARANGAN MENYAMPAIKAN HADITS/ BERITA TANPA MEMPERJELAS KEBENARAN HADITS/ BERITA TERSEBUT
==========

�� Tidaklah dibenarkan secara syar'i untuk menyebarkan hadits-hadits yang disandarkan kepada Nabi _shalallahu 'alaihi wa sallam-_ tanpa memperjelas tentang keshahihan penyandaran hadits tersebut kepada Nabi _shalallahu 'alaihi wa sallam-_, apalagi menyebarkan hadits-hadits dusta dan lemah, walaupun engkau tidak melakukannya namun menyampaikan hadits tersebut sudah merupakan kekejian yang diancam dalam syariat kita.

��Rasulullah _shalallahu 'alaihi wa sallam-_ bersabda;

من حدّث عنّي بحديث يُرى أنه كذب فهو أحد الكاذِبيِن

_"Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku yang dia memandang kedustaan padanya maka ia termasuk salah satu dari para pendusta"._
________
HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya (1/9)

��Dan Rasulullah _shalallahu 'alaihi wa sallam_ bersabda ;

كفى بالمرأ كذباً أن يُحدّث بكل ما سمع

_"Cukuplah seseorang dikatakan sebagai seorang pendusta tatkala ia menyampaikan setiap perkara yang ia dengar (tanpa memperjelas.pent)"._
_________
HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya (1/11)

�� Berkata Imam Malik _rahimahullah-_;

اعلم أنه ليس يَسلم رجلٌ حدّث بكل ما سمع، ولا يكون إماماً أبداً وهو يحدّث بكل ما سمع

_"Ketahuilah bahwasanya tidaklah akan selamat seseorang yang menceritakan setiap perkara yang ia dengar, dan tidak pula akan menjadi seorang panutan sampai kapanpun seorang yang menceritakan setiap yang ia dengar"._
________
Riwayat Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya (1/11).

��Dan Rasulullah _shalallahu 'alaihi wa sallam-_ bersabda;

من كذب عليّ متعمداً فليتبوأ مقعده من النار

_"Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka"._
_______
Muttafaqun 'alaih.

�� Dan Rasulullah _shalallahu 'alaihi wa sallam-_ bersabda;

يكون في آخر الزمان دجالون كذابون يأتونكم من الأحاديث بما لم تسمعوا أنتم ولا آباؤكم فإياكم وإياهم لا يضلونكم ولا يفتنوكم

_" Akan ada pada akhir zaman para Dajjal pendusta yang mereka mendatangkan kepada kalian hadits-hadits yang tidak pernah kalian dengar dan juga tidak pernah didengar oleh bapak-bapak kalian, maka hati-hatilah terhadap mereka, jangan sampai mereka menyesatkan dan membuat kalian terfitnah"._
_______
HR. Muslim (1/12)

����Adalah para sahabat _radhiyallahu 'anhum_ sangat berhati-hati dan benar-benar tatsabbut (mengecek) suatu berita, hingga tidaklah mereka menyampaikan sebuah hadits kecuali setelah mengecek dan memperjelas nya, sampai diantara mereka rela untuk melakukan rihlah (perjalanan jauh) hanya untuk mengecek kebenaran satu hadits Nabi _shalallahu 'alaihi wa sallam-_.

�� Berkata 'Abdurrahman bin Abi Laila _rahimahullah-_;

لقد أدركت في هذا المسجد عشرين ومئة من الأنصار، وما منهم من أحدٍ يُحدّث بحديث إلا وَدَّ أن أخاه كفاه الحديث، ولا يُسأل عن فُتيا إلا وَدَّ أن أخاه كفاه الفُتيا

_"Sungguh aku telah mendapati dimasjid ini sekitar seratus dua puluh sahabat dari kalangan Anshar, dan tak seorangpun diantara mereka menyampaikan sebuah hadits kecuali ia berharap saudaranya lah yang menyampaikan hadits tersebut, dan tidaklah ditanya tentang suatu fatwa kecuali ia berharap saudaranya yang mencukupi memberikan fatwa tersebut"._
________
Riwayat Ad Darimi (137).

��Demikianlah kondisi para salaf yang memiliki keberhati-hatian yang sangat dalam menyampaikan sebuah berita/hadits, dan hal tersebut sangatlah berbeda dengan kondisi kita saat ini. Wa Ilallahil Musytaka.

�� Berkata Asy Syeikh Al 'Utsaimin _rahimahullah-_;

يوجد الآن أحياناً منشورات تتضمن أحاديث ضعيفة وقصصاً لا أصل لها، ثم تنشر بين العامة، وإني أقول لمن نشرها أو أعان على نشرها إنه آثمٌ بذلك، حيث يُضل عن سبيل الله، يضل عباد الله بهذه الأحاديث المكذوبة الموضوعة، أحياناً يكون الحديث موضوعاً ليس ضعيفاً فقط، ثم تجد بعض الجهال يريدون الخير، فيظنون أن نشر هذا من الأشياء التي تحذر الناس وتخوفهم مما جاء فيه من التحذير أو التخويف، وهو لا يدري أن الأمر خطير، وأن تخويف الناس بما لا أصل له حرام؛ لأنه من الترويع بلا حق....الخ.

_"Saat ini kadang didapati buletin-buletin yang menampilkan hadits-hadits lemah dan kisah-kisah yang tidak ada asalnya dan menyebarkannya ke khalayak umum,_ _maka aku katakan kepada orang yang menyebarkan dan membantu penyebarannya  bahwa dia telah melakukan dosa dengan hal tersebut, karena telah menyesatkan manusia dari jalan Allah, dia menyesatkan hamba-hamba Allah dengan hadits-hadits dusta dan palsu tersebut._
_Kadang-kadang ada hadits yang palsu dan bukan sekedar dhaif (lemah) kemudian engkau dapati orang-orang bodoh itu menginginkan kebaikan, dan mereka menyangka bahwa dengan menyebarkan hadits-hadits palsu tersebut merupakan perkara yang membuat manusia mengambil peringatan dan takut, dan dia tidak mengetahui bahwa hal tersebut adalah perkara yang berbahaya, karena memperingatkan manusia dengan perkara tanpa dasar adalah keharaman karena terdapat bentuk mengagetkan manusia tanpa hak...dst"._
_______
��Fatawa Nurun 'Alad Darb

Wallahu a'lam.

cari rezeki yang halal

No comments:

cari rezeki yang halal

Ingat...
Rezeki yang halal bukan saja membawa kebaikan bagi seseorang dikehidupan dunia, namun juga akan memberikan baginya cahaya dikehidupan akhirat.

��Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- berkata;

��Rasulullah -shalallahu 'alaihi wa sallam- bersabda;

من طلب الدنيا حلالا استعفافا عن المسألة، وسعيا على أهله وتعطفا على جاره، لقي الله ووجهه كالقمر ليلة البدر، ومن طلب الدنيا حلالا مكاثرا مرائيا لقي الله وهو غضبان

_"Barangsiapa yang mencari kehidupan dunia dengan cara yang halal karena menjaga harga dirinya dari meminta-minta, dan karena mencarikan nafkah keluarganya, dan membantu tetangganya, maka ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan wajahnya seperti bulan purnama, dan barangsiapa yang mencari dunia dengan cara yang halal karena untuk menumpuk harta dan agar mau dilihat orang maka ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan Allah murka"._

���� Sungguh mengerikan...
��Ternyata mencari rezeki yang halal tapi kalau niatnya salah juga dapat  kesengsaraan ya....

☝️Mari kita perhatikan ucapan Imam Abul Laits As Samarqandy -rahimahullah- berikut ini;

_"Barangsiapa yang ingin agar usahanya menjadi baik maka hendaklah menjaga lima perkara ini;_

1⃣ _Janganlah ia meninggalkan kewajiban yang telah Allah tetapkan hanya karena usaha tersebut, dan janganlah menguranginya._

2⃣ _Janganlah ia menyakiti seorang makhlukpun didalam usahanya._

3⃣ _Hendaklah ia niatkan usahanya tersebut untuk menjaga harga dirinya serta keluarganya, dan jangan ia niatkan untuk berpoya-poya dan menumpuk harta._

4⃣ _Hendaklah ia tidak terlalu mengerahkan seluruh kesungguhannya hanya untuk usaha semata._

5⃣ _Hendaklah ia tidak memandang rezeki itu adalah dari hasil usahanya semata, namun ia memandang bahwasanya rezeki itu datang dari sisi Allah dan bahwa usahanya hanyalah sebab"._
_____
��Tanbiihul Ghafilin (2/500-501).

❓Apa kita sudah seperti ini.....??

Kalau keadaan kita sudah seperti ini maka bergembiralah...

〽️Berkata Yunus bin 'Ubaid -rahimahullah-;

ليس شيء أعز من شيئن؛
درهم طيب
وورجل يعمل على سنة

_"Tidak ada sesuatu yang lebih mulia dari dua perkara; Dirham (mata uang) yang baik dan seorang yang bekerja diatas sunnah"._
_____
��Riwayat Al Baihaqi dalam Az Zuhud Al Kabir (914).

��Selamat bekerja, semoga usaha kita adalah usaha yang baik dan halal serta di ridhai oleh Sang Maha pencipta.
Aamiin.
___

apa boleh makan makanan yang dibuat untuk acara maulid ustadz??

No comments:

apa boleh makan makanan yg dibuat utk acara maulid ustadz??

*Jawaban :*

_(Kami menjawab dengan sebuah tulisan Al-Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi, dari web resmi beliau www.dzulqarnain.net)_

Terdapat sejumlah pertanyaan seputar makanan-makanan yang berasal dari acara-acara bid’ah atau yang tidak disyari’atkan. Berikut beberapa fatwa ulama tentang hal tersebut.
Guru kami, Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbâd Al-Badr, pernah ditanya, “Apakah boleh memakan makanan ahlul bid’ah? Perlu diketahui bahwa mereka membuat makanan ini untuk bid’ah tersebut, seperti makanan untuk maulid Nabi.
Beliau menjawab, “Yang wajib adalah mengingatkan mereka untuk menjauhi bid’ah-bid’ah dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan. Terhadap seorang manusia, (kita mengingatkan) agar tidak memakan makanan yang dibuat untuk perkara-perkara bid’ah dan perkara-perkara yang diharamkan.” [Pelajaran Sunan Abu Dawud, kaset no. 137]
Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Dâ`imah 22/270-271 yang ditandatangani oleh Syaikh Abdul ‘Aziz Âlu Asy-Syaikh, Syaikh Shalih Al-Fauzân, dan Syaikh Bakr Abu Zaid, disebutkan tanya-jawab sebagai berikut.

_“Apa hukum memakan makanan yang dipersiapkan untuk acara-acara tertentu atau suatu kebiasaan, seperti memakan makanan musim semi yang siapkan dengan tepung putih dan tanaman ketika musim semi telah tiba?”_

Jawaban

Apabila makanan-makanan ini tidak berhubungan dengan hari-hari raya dan acara-acara bid’ah, serta tidak ada penyerupaan terhadap orang-orang kafir, tetapi hanya kebiasaan-kebiasaan untuk menganekaragamkan makanan seiring pergantian musim, tidak masalah dalam memakannya karena asal dalam kebiasaan adalah pembolehan.”
Dari jawaban di atas, tampak bahwa pensyaratan pembolehan adalah bila tidak berhubungan dengan hari-hari raya dan acara-acara bid’ah, serta tidak ada penyerupaan terhadap orang-orang kafir.

Risalah Ilmiyah An-Nashihah, vol. 09 Th. 1/1426 H/2005 M, hal. 2-3, memuat tanya-jawab berikut.

Pertanyaan :
Di negeri kami, sebagian orang mengadakan perayaan maulid dan perayaan-perayaan bid’ah lainnya. Kemudian mereka mengirim sebagian makanan dari perayaan-perayaan tersebut ke rumah kami. Apakah kami boleh memakannya?

Jawaban

Mufti Umum Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Âlu Asy-Syaikh, pada malam Jum’at, 8 Sya’ban 1425 H, bertepatan dengan 29 September 2004, menjawab sebagai berikut.
“Wallahu a’lam, tentang acara-acara yang diselenggarakan untuk perkara-perkara bid’ah, tidaklah boleh memakan (makanan) pada (acara) tersebut karena makanan tersebut diletakkan di atas hal yang tidak disyariatkan.”

Syaikh Abdullah bin Abdurrahim Al-Bukhâry, pada sore 5 Syawal 1425 H, bertepatan dengan 17 November 2004, menjawab sebagai berikut.

“Makanan perayaan-perayaan maulid adalah bid’ah dalam agama -menurut (pendapat) yang benar- dan menyelisihi petunjuk Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat beliau. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam kitab Ash-Shahîhain (Shahîh Al-Bukhâry dan Shahih Muslim),

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru, dalam agama kami, yang tidak termasuk dari (agama) tersebut, (perkara) itu tertolak.”

Tentunya, manusia tidak hanya terbatas dengan mengadakan maulid-maulid, bid’ah-bid’ah seperti perayaan maulid ini, perayaan-perayaan lain yang berkaitan dengan hal seperti ini, bahkan mereka juga menambahnya dengan sembelihan-sembelihan dan berbagai jenis makanan. Oleh karena itu, kiriman makanan tersebut kepada manusia, menurutku, tidaklah pantas untuk diambil dan dimakan karena ada bentuk menolong ahlil bid’ah ‘pelaku bid’ah’. Jika seseorang melihat seorang Sunni (pengikut sunnah), atau selainnya, mengambil atau memakan makanan seperti itu dan membolehkan hal seperti ini untuk dirinya, manusia akan menjadi bingung sehingga mereka tidak mengetahui yang haq dari yang batil. Maka, manusia seharusnya diberitahu bahwa hal seperti ini tidaklah boleh dan makanan-makanan seperti itu tidaklah boleh, juga bahwa tidaklah pantas menghidupkan bentuk (perayaan) seperti ini. Jelaskanlah kepada mereka, ingatkanlah mereka, dan buatlah mereka takut terhadap Allah Jalla wa ‘Azza.
Sesungguhnya, makanan seperti ini seharusnya ditinggalkan berdasarkan atsar Abu Bakr radhiyallâhu ‘anhu bahwa seorang maulanya (budaknya) menghadiahkan makanan kepadanya kemudian berkata, ‘Makanan ini berasal dari perdukunan yang saya lakukan pada masa jahiliyah.’ Maka, Abu Bakr memasukkan tangannya lalu mengeluarkan makanan tersebut dari perutnya, seraya berkata, ‘Demi Allah, andaikata Saya tahu bahwa ruhku akan keluar bersama makanan tersebut, niscaya saya akan mengeluarkan (ruhku).’[1] Hal ini menunjukkan kesempurnaan wara’ beliau radhiyallâhu ‘anhu. Maka, dibangun di atas dasar nash ini dan selainnya, seseorang tidaklah pantas membantu orang-orang tersebut serta tidak boleh memakan makanannya, tetapi meninggalkan (makanan) itu. Itulah yang terbaik.”
Demikian fatwa-fatwa ulama kita yang tidak memperbolehkan.
Dalam catatan kaki Hâsyiyah Fathul Majîd, Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz meluruskan pendapat Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqiy. Di antara penjelasan beliau adalah, “… akan tetapi, bila makanan tersebut berasal dari daging sembelihan kaum musyrikin, lemak, atau kuah (daging) itu, hal tersebut adalah haram karena sembelihan (kaum musyrikin) berada pada hukum bangkai sehingga menjadi haram dan menajisi makanan yang bercampur dengannya. Berbeda dengan roti dan yang semisalnya berupa hal-hal yang tidak bercampur dengan suatu sembelihan kaum musyrikin apapun, hal tersebut adalah halal bagi siapa saja yang mengambilnya ….”

[1] Dalam konteks riwayat Al-Bukhâry no. 3842 dari hadits Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, Aisyah bertutur,

كَانَ لِأَبِي بَكْرٍ غُلاَمٌ يُخَرِّجُ لَهُ الخَرَاجَ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَأْكُلُ مِنْ خَرَاجِهِ، فَجَاءَ يَوْمًا بِشَيْءٍ فَأَكَلَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ لَهُ الغُلاَمُ: أَتَدْرِي مَا هَذَا؟ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: كُنْتُ تَكَهَّنْتُ لِإِنْسَانٍ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَمَا أُحْسِنُ الكِهَانَةَ، إِلَّا أَنِّي خَدَعْتُهُ، فَلَقِيَنِي فَأَعْطَانِي بِذَلِكَ، فَهَذَا الَّذِي أَكَلْتَ مِنْهُ، فَأَدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ، فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ

“Adalah Abu Bakr memiliki seorang budak yang memberi setoran kepadanya, dan Abu Bakr makan dari setoran tersebut. Pada suatu hari, budak itu datang membawa sesuatu, dan Abu Bakr memakan (sesuatu) itu. Budak tersebut berkata kepadanya, ‘Tahukah engkau, apa ini?’ Abu Bakr balik bertanya, ‘Apa ini?’ (Budak) itu menjawab, ‘Dahulu, Saya melakukan perdukunan pada seseorang di masa jahiliyah. Saya sebenarnya tidak pandai melakukan perdukunan tersebut, tetapi Saya menipunya. Lalu, ia memberi (makanan) tersebut kepadaku, dan inilah makanan yang telah engkau makan.’ Maka, Abu Bakr memasukkan tangannya lalu memuntahkan seluruh isi  perutnya.”

http://dzulqarnain.net/hukum-makanan-dari-perayaan-bidah.html

Iman Menuntut Perlakuan Baik Pada Jiran dan Tetamu

No comments:

Iman Menuntut Perlakuan Baik Pada Jiran dan Tetamu

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhirat, janganlah ia mengganggu tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhirat hendaknya ia memuliakan tetamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhirat hendaknya ia berkata yang baik atau diam." (HR Bukhari No: 5559) Status: Sahih

Pengajaran:

Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat berkewajipan menunaikan tanggungjawab sebagai bukti keimanannya antaranya:

a.  Berlaku baik kepada jiran tetangga dan tidak menyusahkan mereka.

b.  Memuliakan tetamu

c.  Bertutur sesuatu yang baik (termasuk menulis) atau diam (tidak bercakap atau menulis sesuatu yang tidak baik).

Moga kita menjadi orang beriman yang sentiasa menunaikan tanggungjawab berbuat baik kepada jiran tetangga dan memuliakan tetamu disamping bercakap perkara yang baik dan mendatangkan manfaat.

Mengutamakan Jiran Terdekat Dalam Berhadiah

No comments:

Mengutamakan Jiran Terdekat Dalam Berhadiah

أَبُو عِمْرَانَ قَالَ سَمِعْتُ طَلْحَةَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي قَالَ إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

Abu 'Imran berkata; Aku mendengar Tolhah bin 'Abdullah dari 'Aisyah radliallahu 'anha ' Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, aku punya dua tetangga, kepada siapa dari keduanya yang paling berhak untuk aku beri hadiah?" Beliau bersabda: "Kepada yang paling dekat pintu rumahnya darimu".(HR Bukhari No: 2099) Status: Sahih

Pengajaran:

1.  Berbuat baik dengan jiran melalui pemberian dan saling berhadiah contohnya dalam bentuk makanan dan buahan.

2.  Saling berhadiah akan mengikat ukhuwah dan kasih sayang

3.  Berilah hadiah pada jiran yang paling berhak iaitu yang paling hampir dengan rumah kita

Jika kita memiliki limpahan rezeki, jangan lupa menghadiahkan sedikit kepada jiran tetangga. Moga sifat rahmah yang ada pada kita akan menjadikan kehidupan bermasyarakat lebih harmoni.

Mukmin Tidak Membiarkan Jiran Kelaparan

No comments:

Mukmin Tidak Membiarkan Jiran Kelaparan

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ.

Dari Ibnu Abas dari Nabi SAW: Tidak termasuk orang mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan (HR at Tabrani No:  12579) Status: Sahih

Pengajaran:

1.  Antara bukti keimanan seseorang adalah memiliki sifat prihatin terhadap kesusahan tetangga.

2.  Tidak beriman seseorang yang tidur dalam kekenyangan sedangkan ada jiran tetangga yang kelaparan.

3.  Jadilah kita orang yang sentiasa berusaha menyantuni dan berbuat baik

03hb Februari  2017
06hb Jamadil Awal 1438H

Loefa-Cebook Facebook

Al Quran Wal Hadith

Categories