Hakikat Ain & kedengkian

No comments:

                    Hakikat Ain
Lajnah Daimah Pertanyaan:
Apakah hakikat ain Nadhl- (panah kedengkian) itu? Allah berfirman, "Dan dari keburukan orang yang dengki ketika dengki." (Al-Falaq: 5). Apakah hadits Rasul صلی الله عليه وسلم shahih, yang maknanya, "Sepertiga yang ada dalam kubur mati karena 'ain"? Apabila seseorang ragu tentang kedengkian salah seorang dari mereka, maka apa yang wajib dikerjakan dan diucapkan oleh seorang muslim? Apakah mengambil bekas mandi orang yang menimpakan ain dan diguyurkan pada orang yang tertimpa dapat menyembuhkan, dan apakah ia meminumnya atau mandi dengannya?

Jawaban:
'Ain itu diambil dari kata 'Ana'Ya'inu, apabila ia menatapnya dengan matanya. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, kemudian diikuti oleh jiwanya yang keji, kemudian menggunakan tatapan matanya itu untuk menyampaikan racun jiwanya kepada orang yang dipandangnya.

Allah سبحانه و تعالى telah memerintahkan Nabinya, Muhammad صلی الله عليه وسلم, untuk meminta perlindungan dari orang yang dengki. Allah سبحانه و تعالى berfirman,
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد
"Dan dari keburukan orang yang dengki ketika dengki." (Al-Falaq: 5).

Setiap 'a'in (orang yang menimpakan 'ain) adalah hasid (pendengki) dan tidak setiap hasid adalah 'a'in. Karena hasid itu lebih umum ketimbang 'a'in, maka meminta perlindungan dari hasid berarti meminta perlindungan dari 'a'in. Yaitu panah yang keluar dari jiwa hasid dan 'a'in yang tertuju pada orang yang didengki (mahsud atau ma'in), yang adakalanya menimpanya dan adakalanya tidak mengenainya. Jika 'ain itu kebetulan menimpa orang yang dalam keadaan terbuka tanpa pelindung, maka itu berpengaruh padanya. Sebaliknya, bila ia menimpa kepada orang yang waspada dan bersenjata, maka panah itu tidak berhasil mengenainya, tidak berpengaruh padanya. Bahkan barangkali panah itu kembali kepada pemiliknya (diringkas dari Zad al-Ma'ad).

Banyak hadits-hadits shahih dari Nabi صلی الله عليه وسلم tentang terjangkit dengan 'ain ini. Di antaranya apa yang disebutkan dalam Shahihain dari Aisyah -rodliallaahu'anhu-, ia mengatakan,

"Bahwasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم memerintahkan kepadanya supaya meminta diruqyah dari 'ain." (HR. Al-Bukhari, no. 5738, kitab ath-Thibb; dan Muslim, no. 2195, kitab as-Salam).

Muslim, Ahmad dan at-Tirmidzi; ia menshahihkannya, dari Ibnu Abbas dari Nabi صلی الله عليه وسلم beliau bersabda,

"'Ain adalah nyata, dan seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya 'ain mendahuluinya. Jika kalian diminta untuk mandi, maka mandilah." (HR. Muslim, no. 2188, kitab as-Salam).

Diriwayatkan Imam Ahmad dan at-Tirmidzi; ia menshahihkannya, dari Asma' binti Umais bahwa ia mengatakan,

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja'far tertimpa 'ain; apakah aku boleh meminta ruqyah untuk mereka?" Beliau menjawab, "Ya, seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya 'ainlah yang mendahuluinya." (HR. at-Tirmidzi, no. 2059, kitab ath-Thibb; Ahmad dalam al-Musnad, 6/ 438; Ibnu Majah, no. 3510, kitab ath-Thibb; dan at-Tirmidzi menilainya sebagai hadits hasan shahih).

Abu Daud meriwayatkan dari Aisyah -rodliallaahu'anha-, ia mengatakan,

"Orang yang menimpakan 'ain diperintahkan supaya berwudhu, kemudian orang yang tertimpa 'ain mandi darinya.? (HR. Abu Daud, no.3880, kitab ath-Thibb).

Imam Ahmad, Malik, an-Nasa'i dan Ibnu Hibban; ia menshahihkannya, meriwayatkan dari Sahl bin Hanif,

"Bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم keluar beserta orang-orang yang berjalan bersamanya menuju Makkah, hingga ketika sampai di daerah Khazzar dari Juhfah, Sahl bin Hanif mandi. Ia seorang yang berkulit putih serta elok tubuh dan kulitnya. Lalu Amir bin Rabi'ah, saudara Bani Adi bin Ka'b melihatnya, dalam keadaan sedang mandi, seraya mengatakan, 'Aku belum pernah melihat seperti hari ini kulit yang disembunyikan.' Maka Sahl pingsan. Lalu ia dibawa kepada Nabi صلی الله عليه وسلم lantas dikatakan kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, mengapa Shal begini. Demi Allah, ia tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula siuman.' Beliau bertanya, 'Apakah kalian mendakwa seseorang mengenainya?' Mereka menjawab, 'Amir bin Rabi'ah telah memandangnya.' Maka beliau صلی الله عليه وسلم memanggil Amir dan memarahinya, seraya bersabda, 'Mengapa salah seorang dari kalian membunuh saudaranya. Mengapa ketika kamu melihat sesuatu yang mengagumkanmu, kamu tidak mendoakan keberkahan (untuknya)?' Kemudian beliau bersabda kepadanya, 'Mandilah untuknya.' Lalu ia membasuh wajahnya, kedua tangannya dan kedua sikunya, kedua lututnya dan ujung kedua kakinya, dan bagian dalam sarungnya dalam suatu bejana. Kemudian air itu diguyurkan di atasnya, yang diguyurkan oleh seseorang di atas kepalanya dan punggungnya dari belakangnya. Ia meletakkan bejana di belakangnya. Setelah melakukan demikian, Sahl bangkit bersama orang-orang tanpa merasakan sakit lagi."
(HR. Muslim, no. 2188, kitab as-Salam).

Jumhur ulama menetapkan bahwa 'ain itu bisa menimpa, berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan dan selainnya, karena bisa disaksikan dan fakta. Adapun hadits yang anda sebutkan, "Sepertiga manusia yang berada dalam kubur mati karena 'ain," maka kami tidak mengetahui keshahihannya. Tetapi penulis Nail al-Authar menyebutkan bahwa al-Bazzar mengeluarkan dengan sanad hasan dari Jabir رضى الله عنهما dari Nabi صلی الله عليه وسلم, beliau bersabda,
أَكْثَرُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِيْ بَعْدَ قَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ بِاْلأَنْفُسِ
"Kebanyakan orang yang mati dari umatku, setelah qadha Allah dan qadarNya, karena Anfus." (HR. Ath-Thayalisi dalam Musnadnya, no. 1760; ath-Thahawi dalam al-Musykil dan al-Bazzar; serta dihasankan oleh al-Hafizh dalam al-Fath, 10/ 167; dalam as-Silsilah ash-Shahihah, no. 747).

Yakni, karena 'ain.

Kewajiban atas setiap muslim ialah membentengi dirinya dari setan dan dari kejahatan jin dan manusia, dengan kekuatan iman kepada Allah, ketergantungan dan tawakalnya kepadaNya, berlindung dan tadharru' kepadaNya, ta'awwudz nabawiyah, serta banyak membaca Mu'awwidzatain, surah al-Ikhlas, Fatihatul kitab, dan ayat Kursi. Di antara ta'awwudz ialah:
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang diciptakanNya."

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَمِنْ شَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ
"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murkaNya dan siksaNya, dari keburukan hamba-hambaNya, dari bisikan-bisikan setan, dan bila mereka datang."

Juga firman Allah,
فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِ
"Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki 'Arsy yang agung." (At-Taubah: 129).

Dan doa-doa sejenisnya yang disyariatkan. Ini adalah makna pembicaraan Ibnul Qayyim yang disebutkan di awal jawaban.

Jika diketahui bahwa seseorang telah menimpakan 'ain kepada orang lain, atau seseorang diragukan bahwa ia menimpakan 'ain, maka orang yang menimpakan 'ain diperintahkan supaya mencuci wajahnya dalam bejana, kemudian memasukkan tangan kirinya lalu mengguyurkan pada lutut kanannya dalam bejana, kemudian memasukkan tangan kanannya lalu mengguyur lutut kirinya, kemudian mencuci kainnya, kemudian diguyurkan pada kepala orang terkena 'ain dari belakangnya sekali guyuran, maka ia akan sembuh dengan seizin Allah.

Hanya Allah-lah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam Allah limpahkan atas Nabi kita, Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Rujukan:
Lajnah Da'imah, Fatawa al-'Ilaj bil Qur'an was Sunnah'ar-Ruqa wama yata'allaqu biha.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Hukum Cium Tangan

No comments:


        Hukum Cium Tangan

Syaikh Ibnu Jibrin Pertanyaan:
Apa hukum cium tangan? Dan apa hukum mencium tangan seseorang yang memiliki keutamaan, misalnya guru, dan sebagainya? Apa pula hukum mencium tangan paman dan lainnya yang lebih tua? Apakah mencium tangan kedua orang tua ada tuntunannya dalam syari'at? Ada orang yang mengatakan bahwa cium tangan mengandung kehinaan (menghinakan diri sendiri).

Jawaban:
Menurut kami, itu boleh, dalam rangka menghormati dan bersikap sopan terhadap kedua orang tua, ulama, orang-orang yang memiliki keutamaan, kerabat yang lebih tua dan sebagainya. Ibnul Arabi telah menulis risalah tentang hukum cium tangan dan sejenisnya, sebaiknya merujuknya. Bila cium tangan itu dilakukan terhadap kerabat-kerabat yang lebih tua atau orang-orang yang memiliki keutamaan, ini berarti sebagai penghormatan, bukan menghinakan diri dan bukan pula pengagungan. Kami dapati sebagian Syaikh kami mengingkarinya dan melarangnya, hal itu karena sikap rendah hati mereka, bukan berarti mereka mengharamkannya. Wallahu a'lam.

Rujukan:
Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin (1852), tanggal 20/11/1421 H.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3,

Pengorbanan Seorang lelaki

No comments:

Laki laki..  �LAKI-LAKI adalah ciptaan TUHAN yg paling indah. Dia banyak mengalah dari umur yang sangat muda.  �  Dia membelanjakan kesemua duit, untuk beli hadiah, �untuk �yang dia cinta, hanya untuk melihat dia tersenyum..   Dia korbankan masa lajangnya hanya untuk seorang wanita.. Dia korbankan masa �mudanya demi istri dan anak2�nya.  dengan bekerja sampai mlm  tanpa mengeluh.   Dia bina masa depan mereka sekeluarga �dengan hutang dari bank �dan membayar cicilan sampe stress..  Dia telah bersusah payah tapi masih dimarahi isteri �dan boss. Kehidupan dia berakhir hanya untuk mengalah demi kebahagiaan �orang lain   Kalau dia keluar rumah, katanya dia ngelayap   �Kalau dia tinggal dirumah, kata org dia malas..   Kalau dia marahi anak2, kata org dia galak�  Kalau dia tak marah, kata org dia laki-laki yang tak tegas..  �Kalau dia tak bolehkan isteri  bekerja, kata org dia seorang yang mengungkung   �kalau dia bolehkan isteri �bekerja, kata org dia makan gaji isteri.   Kalau dia dengar apa kata ibunya, kata org dia anak mami   Kalau dia dengar kata isteri, kata org dia DKI (Dibawah Ketiak Istri)  Kalau dia banyak menolong wanita yg membutuhkan, dibilang hidung belang...  Kalau gak mau tolong wanita lain, katanya kejam..  Tapi di tengah terpaan segala macam tuduhan, dia tetap tegar..  Dialah laki laki.. �  Hargailah setiap laki-laki dalam hidup anda. Anda tidak akan pernah tahu apa perngorbanan yang sudah dilakukan buat anda.   Boleh dikirim ke semua laki-laki �supaya mereka tersenyum dan kepada semua wanita �supaya mereka sadar bahwa laki-laki itu amat berharga..   HAPPY MEN'S DAY.. =D =)) hahaha

Kenapa kamu membawa sepatumu?”

No comments:

Sunni-Syiah

TELAH diadakan diskusi antara tujuh ulama Syiah di depan ulama Ahlu Sunnah atas undangan Presiden Iran. Diskusi ini diadakan untuk mengetahui titik perbedaan antara dua kelompok tersebut.

Ketika seluruh ulama Syiah telah hadir, akan tetapi tak satupun ulama Sunni yang datang.

Tiba-tiba masuklah seorang yang membawa sepatu di bawah ketiaknya. Ulama Syiah terheran-heran, kemudian mereka bertanya, “Kenapa kamu membawa sepatumu?”

Orang itu menjawab: “Saya tahu bahwa orang Syiah itu suka mencuri sandal di zaman Rasulullah.”

Ulama Syiah saling pandang terheran-heran akan jawaban itu. Mereka kemudian berkata: “Tapi di zaman Rasul belum ada Syiah…”

Orang itu menjawab lagi: “Kalau begitu diskusi telah selesai. Dari manakah datangnya ajaran agama kalian? Kalau di zaman Rasulullah tidak Ada Syiah.”

Semua ulama Syiah diam.

Orang yang datang membawa sepatu tersebut adalah Ahmad Deedat, da’i besar dan Kristolog dunia. Rahimahullah.

Memandang aurat pasangan

No comments:

memandang aurat pasangan

Memang, dalam sebagian ajaran fikih yang tersebar di negeri kita, disebutkan bahwa boleh memandang seluruh tubuh istri kecuali pada kemaluan. Jadi ketika tidak boleh melihat aurat atau kemaluan istri.

Namun yang benar boleh antara suami istri saling memandang aurat satu dan lainnya. Dalilnya, dari ‘Aisyah, ia berkata, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana antara aku dan beliau. Kemudian beliau bergegas-gegas denganku mengambil air, sampai aku mengatakan: tinggalkan air untukku, tinggalkan air untukku.” Ia berkata, “Mereka berdua kala itu dalam keadaan junub.” (HR. Bukhari no. 261 dan Muslim no. 321). Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Ad Daudi berdalil dengan dalil ini akan bolehnya laki-laki memandang aurat istrinya dan sebaliknya.” (Fathul Bari, 1: 364)

Juga dikuatkan lagi dengan hadits, “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2769, hasan). Ibnu Hajar berkata, “Yang dipahami dari hadits ‘kecuali dari istrimu’ menunjukkan bahwa istrinya boleh-boleh saja memandang aurat suami. Hal ini diqiyaskan pula, boleh saja suami memandang aurat istri.” (Fathul Bari, 1: 386). Dan yang berpandangan bolehnya memandang aurat satu sama lain antara suami istri adalah pendapat jumhur ulama (mayoritas). (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 32: 89)

Ibnu Hazm Azh Zhohiri juga berkata, “Halal bagi suami untuk memandang kemaluan istri dan hamba sahaya miliknya yang boleh ia setubuhi. Demikian pula istri dan hamba sahayanya boleh memandang kemaluannya. Hal ini tidak dianggap makruh sama sekali. Di antara dalilnya adalah hadits yang masyhur dari jalan ‘Aisyah, Ummu Salamah, Maimunah yang kesemuanya adalah ummahatul mukminin (istri Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-). Di antara mereka pernah mandi junub bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana.

Yang aneh, mereka menghalalkan menyetubuhi istri di kemaluan, namun melarang dari memandang kemaluan (padahal memandang masih lebih mending daripada menyetubuhi, pen). Cukup sebagai dalil akan bolehnya adalah firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (QS. Al Ma’arij: 29-30).

Merotan anak bukan budaya Islam

No comments:

SEHARI dua ini nampaknya rakyat diajak
berpolemik dengan isu mengenai merotan
anak. Termenung seketika memikirkan apakah punca isu sebegini dipolemikkan.

Seolah-olah Islam yang tertampil hari ini hanya berlegar sekitar isu-isu keganasan, kekerasandan hukuman. Di manakah aspek kasih-sayang,kelembutan, keihsanan yang menjadi teras agama Islam selama ini?

Isu ini timbul apabila kenyataan Menteri
Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat disalah tafsir media dengan maksud untuk menjadikan tindakan merotan anak sebagai kesalahan jenayah.

Mujurlah pihak Kementerian segera
menjernihkan suasana dengan menyiarkan penjelasan terhadap isu tersebut.

Penulis tidaklah bercadang untuk
membahaskan kenyataan pencerahan yang diberikan oleh pihak Kementerian bahawa tidak timbul untuk menjadikan tindakan merotan anak sebagai kesalahan jenayah.

Ini kerana peruntukan undang-undang sedia ada telah pun menjadikan perbuatan merotan sehingga menyebabkan kecederaan fizikal atau mental sebagai suatu kesalahan jenayah di bawah Seksyen 31(1) Akta Kanak- Kanak 2001 yang boleh dihukum dengan penjara selama tempoh tidak melebihi 10 tahun atau denda tidak melebihi RM20,000 atau kedua-duanya.

Namun apa yang penulis berasa kurang selesa apabila masyarakat begitu bersungguh-sungguh berhujah seolah-olah merotan anak ini sudah menjadi suatu budaya umat Islam dalam mendidik anak.

Benarlah merotan atau memukul merupakan sebahagian daripada kaedah mendidik sebagaimana yang dikhabarkan dalam banyak hadis, termasuklah seperti hadis berikut: “Ajar anak kamu solat ketika umurnya 7 tahun, dan (sekiranya mereka enggan) pukul mereka apabila mencecah 10 tahun”. (Riwayat Abu Daud dan berstatus sahih)

Walau bagaimanapun, hadis di atas tidak boleh ditafsirkan secara simplistik dengan
memberikan makna seolah-olah merotan atau memukul merupakan sebahagian daripada budaya Islam dalam mendidik anak-anak.

Sedangkan dalam konteks hadis tersebut juga jelas bahawa merotan atau memukul adalah pilihan terakhir setelah dilaksanakan pelbagai kaedah untuk memujuk, membelai dan menasihati anak dengan penuh kasih sayang tatkala dia sudah mumaiyiz iaitu berupaya menentukan yang mana baik dan buruk.

Bahkan aspek kasih sayang dan kasihan belas ini dinukilkan dalam ayat al-Quran berupa doa kepada kedua ibu bapa yang telah mendidik dan membesarkan anak dengan penuh kasih sayang. ALLAH berfirman dalam Surah al-Isra’ayat 24: “Katakanlah: wahai Tuhanku
kasihanilah kedua mereka (ibu bapaku) SEPERTI mana mereka membesarkanku semasa kecil”.

Kalaupun hendak mula memukul anak selepas umur mencecah 10 tahun, Islam meletakkan garis panduan yang jelas bahawa tidak boleh memukul sehingga boleh mendatangkan kecederaan.

Dalam satu hadis disabdakan: “Tidak boleh
merotan melebihi 10 kali melainkan pada
hukum hudud” (Hadith Riwayat Bukhari).
Menurut Khalifah Umar Abdul Aziz: “Guru-guru tidak boleh merotan melebihi tiga kali, kerana ia boleh menimbulkan fobia dan kebimbangan kepada kanak-kanak”.

Menurut al-Dohak: Apa-apa sahaja pukulan atau rotan yang melebihi tiga kali, maka ia adalah qisas. Rotan itu tidaklah terlalu keras, tidak pula terlalu lembut atau basah/ lembab, sehinggalah boleh meninggalkan bekas dan kerosakan yang teruk pada kulit. Mengenai cara merotan pula, menurut Syeikh al-Faqih Shamsuddin al-Anbani:

i. Memukul di tempat yang berbeza, bukannya pada satu tempat di badan manusia sahaja.
ii. Memanjangkan tempoh rotan pertama
dengan yang seterusnya.
iii. Tidak mengangkat tangan sehingga boleh kelihatan ketiaknya.

Namun, sekali lagi ingin ditegaskan tindakan memukul atau merotan seharusnya menjadi pilihan dan pendekatan terakhir setelah diusahakan pelbagai cara lain yang lebih diutamakan Islam.

Di dalam kitab masyhur bertajuk Tarbiyatul Awlad fil Islam (Pendidikan Anak-anak dalam Islam) telah disenaraikan langkah-langkah mendidik anak.

Antaranya, pertama, mendidik dengan menjadi Murabbi atau guru contoh ikutan yang baik; Kedua, mendidik dengan menanam akhlak dan nasihat yang baik; Ketiga, mendidik secara menasihati apabila kesalahan dilakukan;

Keempat, mendidik secara menegur dengan keras apabila kesalahan diulangi;

Kelima, mendidik dengan memberi silent
treatment atau tindakan meminggirkan seketika apabila kesalahan tetap diulangi; dan jika masih dibuat juga maka barulah mendidik secara memukul mengikut batas-batas tertentu.

Maka jelaslah memukul merupakan JALAN
TERAKHIR setelah segala ikhtiar berpandukan kelima-lima pendekatan di atas telah sudah dilaksanakan dengan cara terbaik.

Justeru tidak wajar sama sekali mengandaikan seolah-olah merotan atau memukul sudah menjadi akar umbi budaya Islam yang hakikatnya langsung tidak mencerminkan agama ini yang subur dengan kasih sayang, belas kasihan dan kelembutan.

Mencari Sakinah

No comments:

Mencari Sakinah...

Apabila kita asyik termenung
memikirkan nasib diri di sini...
merenung jauh mereka di sana
hidup penuh keseronokan dan kegembiraan...
namun, kita masih tak sedar tentang hakikat
erti kebahagiaan yang sebenarnya...

Ramai orang...
tersalah sangka tentang maksud
ketenangan dalam hidupnya
selalu orang mengaitkan ketenangan itu
dengan faktor harta...
dengan faktor kekayaan...
Walaupun itu boleh jadi penyumbang
tetapi itu bukan segala-galanya

Betapa ramai orang yang berada dalam rumah yang besar
tidur di atas katil yang empuk
tetapi dia tidak lebih enak ataupun lenanya tidak nyenyak
Bahkan ada orang yang tidur di pondok buruk
kadang-kadang dia lebih lena dari kita

Ada orang yang berada di hadapannya hidangan yang hebat
lauk-pauk yang bagus
tetapi lidahnya tidak enak
lebih enak lagi orang yang makan kadang-kadang dengan
satu dua mata lauk...
tetapi dia lebih sedap dan selesa makannya
Kata Hamka: "lihatlah bagaimana Allah membahagi-bahagikan nikmat"

Semua orang sangka kalau orang itu ada rumah besar
ada makanan yang sedap
tentulah hidupnya bahagia dan tenang
Belum tentu!...

Loefa-Cebook Facebook

Al Quran Wal Hadith

Categories