MENGAPA ALLAH MENCIPTAKAN KITA

No comments:

��MENGAPA ALLAH MENCIPTAKAN KITA ?

Allah menciptakan kita agar kita beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menduakan-Nya dengan sesuatu apapun.

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ اْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah agar mereka beribadah hanya kepada Allah.

Maka hendaklah seorang muslim meniatkan segala aktivitasnya di dunia ini untuk beribadah hanya kepada-Nya.

Kemudian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا

“Hak Allah atas hambanya, agar supaya hamba tersebut menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (Muttafaqun ‘Alaih)

Hadits ini menerangkan bahwa Allah mempunyai hak atas kita.

Hak Allah berarti kewajiban kita kepada Allah.

Dan kewajiban itu adalah beribadah hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.

Jadi termasuk bentuk mengambil hak Allah ketika seseorang beribadah kepada selain Allah.

Seperti berdo’a kepada penghuni kubur, meminta kepada jin, takut kepada syeithan, bertawakkal kepada jimat, dan lain-lain.

Itu semua adalah ibadah yang tidak boleh diberikan kepada selain Allah, karena ibadah itu adalah milik Allah.

Memberikan ibadah kepada selain Allah disebut dengan kesyirikan.

Dan kesyirikan adalah lawan dari tauhid serta pembatalnya.

��Sumber : Kitab Khudz Aqidataka karya Syeikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullah.

Diterjemahkan dan dijelaskan oleh Al-Ustâdz Abu Ubaidillah Al-Atsari

Silsilah Belajar Tauhid Dasar

•┈┈┈◎❅❀❦��❦❀❅◎┈┈┈•

Repost by :
�� SYIAR TAUHID ACEH

ADAKAH AMALAN KHUSUS DI BULAN RAJAB?

No comments:

�� *ADAKAH AMALAN KHUSUS DI BULAN RAJAB?*

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

✅ Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

�� “Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah 12 bulan dalam kitab Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada 4 bulan yang haram, itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri-diri kalian di bulan-bulan itu.” [At-Taubah: 36]

✅ Empat bulan haram tersebut telah diterangkan dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

�� “Tahun itu terdiri dari 12 bulan, diantaranya 4 bulan haram; tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharram. Adapun Rajab yang juga merupakan bulannya kaum Mudhar, berada diantara Jumaada dan Sya’ban.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Bakrah radhiyallahu’anhu]

➡ Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa Rajab termasuk bulan haram. Dinamakan bulan haram karena Allah ta’ala memberikan penkhususan terhadap bulan ini dengan mengagungkannya melebihi bulan-bulan yang lain, demikian pula dosa dan amal shalih di bulan-bulan ini dilipatgandakan.

✅ Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

وقال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس قوله: { إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا } الآية { فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ } في كلِّهن، ثم اختص من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حراما، وعَظم حُرُماتهن، وجعل الذنب فيهن أعظم، والعمل الصالح والأجر أعظم.

�� “Dan berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma: Firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah 12 bulan.” (At-Taubah: 36) “Maka janganlah kalian menzalimi diri-diri kalian di bulan-bulan itu.” (At-Taubah: 36) Maksudnya adalah pada seluruh bulan diharamkan berbuat zalim, kemudian Allah ta’ala mengkhususkan empat bulan, menjadikannya haram (mulia) dan mengagungkan kemuliaan bulan-bulan tersebut, demikian pula Allah ta’ala menjadikan dosa di bulan-bulan itu lebih besar dan amal shalih serta pahala lebih agung.” [Tafsir Ibnu Katsir, 4/148]

➡ Ini menunjukkan bahwa meningkatkan amal shalih di bulan-bulan ini sangat dianjurkan, akan tetapi amal shalih yang dimaksud di sini adalah amalan-amalan yang biasa kita kerjakan (yang berdasarkan dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah), seperti sholat, puasa, membaca Al-Qur’an, dzikir, do’a, dan lain-lain. Contohnya, sholat tahajjud, sholat dhuha, puasa 3 hari tiap bulan, puasa Senin Kamis, memperbanyak puasa di bulan-bulan haram, dan lain-lain.

➡ Adapun melakukan amalan khusus di waktu-waktu khusus maka membutuhkan dalil, contohnya puasa Arafah tgl. 9 Dzulhijjah, Asyuro’ tgl. 10 Muharram, dan lain-lain, boleh dikhususkan karena adanya dalil yang menunjukkannya. Barangsiapa mengkhususkan suatu amalan tanpa dalil maka berarti ia telah mengada-ada; berbuat bid’ah dalam agama.

�� *ADAKAH PUASA KHUSUS DI BULAN RAJAB?*

✅ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وأما صوم رجب بخصوصه فأحاديثه كلها ضعيفة بل موضوعة لا يعتمد أهل العلم على شيء منها وليست من الضعيف الذي يروى في الفضائل بل عامتها من الموضوعات المكذوبات

�� “Adapun puasa Rajab secara khusus, maka seluruh haditsnya lemah, bahkan palsu, tidak ada seorang ahli ilmu pun yang berpegang dengannya, dan bukan pula termasuk kategori lemah yang boleh diriwayatkan dalam fadhail (keutamaan-keutamaan beramal), bahkan seluruhnya termasuk hadits palsu yang dusta.” [Majmu’ Al-Fatawa, 25/290]

✅ Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

وكل حديث في ذكر صوم رجب وصلاة بعض الليالي فيه فهو كذب مفترى

�� “Dan semua hadits yang berbicara tentang puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah dusta yang diada-adakan.” [Al-Manaarul Muniif, 96]

✅ Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

لم يرد في فضل شهر رجب ولا في صيامه ولا صيام شيء منه معين ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة

�� “Tidak ada satu hadits shahih pun yang yang dapat dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, tidak puasanya, tidak pula puasa khusus di hari tertentu dan tidak pula sholat malam di malam yang khusus.” [Tabyinul ‘Ajab, hal. 11]

�� Maka tidak boleh menyebarkan hadits-hadits palsu tersebut. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

�� "Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka siapkan tempat duduknya di neraka." [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu]

✅ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

�� “Barangsiapa menyampaikan hadits atas namaku padahal dia menyangka bahwa itu adalah dusta maka dia termasuk salah satu pendusta.” [HR. Muslim dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu]

�� *HUKUM SHOLAT ROGHAIB*

�� Sebagian orang mengamalkan sholat Roghaib pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab sebanyak 12 raka’at di antara Maghrib dan Isya, padahal tidak ada satu pun dalil shahih yang menunjukkan amalan tersebut.

✅ Imam Besar Mazhab Syafi’i, An-Nawawi rahimahullah berkata,

الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرة ركعة تصلي بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب واحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فان كل ذلك باطل ولا يغتر ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الائمة فصنف ورقات في استحبابهما فانه غالط في ذلك

�� “Sholat yang dikenal dengan nama sholat roghoib, yaitu sholat 12 raka’at antara maghrib dan isya pada malam Jum’at pertama bulan Rajab, demikian pula sholat malam nishfu Sya’ban sebanyak 100 raka’at, maka dua sholat ini adalah bid’ah yang mungkar lagi jelek.  Dan janganlah tertipu dengan penyebutan dua sholat ini dalam kitab Quthul Qulub dan Ihya ‘Ulumid Diin, dan jangan tertipu dengan hadits (palsu) yang disebutkan pada dua kitab tersebut, karena semua itu batil. Jangan pula tergelincir dengan mengikuti sebagian ulama yang masih tersamar bagi mereka tentang hukum dua sholat ini, sehingga mereka menulis berlembar-lembar kertas tentang sunnahnya dua sholat ini, karena mereka telah salah besar dalam hal tersebut.” [Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 4/56]

✅ Dalam kitab Asy-Syafi’iyah yang lain, berkata Ad-Dimyathi rahimahullah,

قال المؤلف في إرشاد العباد: ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الامر منع فاعلها: صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب، وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة، وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة، بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها، وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر، وصلاة الاسبوع، أما أحاديثها فموضوعة باطلة، ولا تغتر بمن ذكرها. اه

�� “Berkata penulis dalam kitab Irsyadul Ibad: Dan termasuk bid’ah yang tercela, yang pelakunya berdosa, serta wajib bagi pemerintah untuk mencegah pelakunya adalah:

(1) Sholat raghoib 12 raka’at yang dikerjakan di antara Maghrib dan Isya pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab,

(2) Sholat nishfu Sya’ban 100 raka’at,

(3) Sholat di Jum’at terakhir Ramadhan sebanyak 17 raka’at dengan niat qodho sholat 5 waktu yang belum ia kerjakan,

(4) Sholat hari Asyuro 4 raka’at atau lebih,

(5) Sholat sunnah pekanan.

Adapun hadits-haditsnya maka palsu lagi batil, dan janganlah tertipu dengan orang yang menyebutkannya –Selesai-.” [Haasyiah I’anatit Thalibin, 1/312]

�� *HUKUM PERAYAAN ISRA' MI'RAJ*

�� Sebagian orang merayakan perjalanan Isra' Mi'raj Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam di bulan Rajab, maka perayaan ini mungkar dari beberapa sisi:

➡ Pertama: Bid'ah (mengada-ada) dalam agama, karena tidak ada dalil yang menunjukkannya. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam telah mengingatkan,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

�� “Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini apa yang tidak berasal darinya maka ia tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

✅ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد

�� “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

✅ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

�� “Ammaa ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (shallallahu’alaihi wa sallam) dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru (dalam agama) dan semua perkara baru (dalam agama) itu sesat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

✅ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

�� “Aku wasiatkan kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah serta mendengar dan taat kepada pemimpin (negara) meskipun pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah, karena sesungguhnya siapa pun diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak (dalam agama), maka wajib bagi kalian (menghindari perselisihan tersebut) dengan berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Al-Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Peganglah sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara baru (bid’ah dalam agama) karena setiap bid’ah itu sesat.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu]

✅ Sahabat yang Mulia Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةُ وَإِنْ رَآهَا النَّاس حَسَنَة

�� “Setiap bid’ah itu sesat, meski manusia menganggapnya hasanah (baik).” [Dzammul Kalaam: 276]

➡ Kedua: Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, yaitu menyerupai perayaan paskah (kenaikan) Yesus dalam keyakinan Nasrani. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

�� “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka.” [HR. Abu Daud dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Shahih Al-Jaami’: 6149]

➡ Ketiga: Berbagai kemungkaran yang terjadi dalam perayaannya seperti;

• Ikhtilat (campur baur) antara laki-laki dan wanita,

• Lagu-lagu, nyanyian dan musik,

• Mengada-adakan dzikir-dzkir dan doa-doa khusus tanpa petunjuk dari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam,

• Menyampaikan atau mendengarkan ceramah-ceramah tanpa ilmu, tanpa berdasarkan dalil-dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai Pemahaman Salaf, melainkan kisah-kisah dan hadits-hadits palsu,

• Bahkan yang lebih tragis adalah terlalaikan dari melakukan sholat 5 waktu atau sholat wajib secara berjama'ah, padahal esensi perjalanan Isra' Mi'raj adalah sholat 5 waktu itu sendiri, maka buktikanlah lebih ramai mana antara sholat 5 waktu berjama'ah di masjid dan perayaan Isra' Mi'raj...!?

➡ Keempat: Menyelisihi larangan Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam terhadap perayaan apa pun selain 'iedul adha dan 'iedul fitri. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

�� “Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha]

✅ Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu'anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

�� “Ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mendatangi kota Madinah, para sahabat memiliki dua hari perayaan yang padanya mereka bersenang-senang. Maka beliau bersabda: Dua hari apa ini? Mereka menjawab: Dua hari yang sudah biasa kami bersenang-senang padanya di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu ‘iedul adha dan ‘iedul fitri.” [HR. Abu Daud, Shahih Sunan Abi Daud: 1039]

➡ Kelima: Penetapan tanggal terjadinya Isra' Mi'raj secara dusta. Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi'i rahimahullah berkata,

وذكر بعض القصاص أن الإسراء كان في رجب، قال: وذلك كذب

�� "Dan sebagian tukang dongeng telah menyebutkan bahwa peristiwa Isra' terjadi di bulan Rajab. Beliau berkata: Dan itu adalah dusta." [Tabyinul 'Ajab, hal. 11]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

�� Sumber:

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/770727679743383:0

Pelaknat Tidak Boleh Memberi Syafaat dan Menjadi Saksi

No comments:

Pelaknat Tidak Boleh Memberi Syafaat dan Menjadi Saksi

فَإِنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّعَّانِينَ لَا يَكُونُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ

Abu Darda' menceritakan, bahwa dia telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya orang-orang yang suka melaknat, mereka tidak akan menjadi saksi (di hari kiamat tiada yang akan menyaksikan kebaikannya) dan tidak dapat memberi syafaat pada hari kiamat." (HR Ahmad No: 26253) Status Hadis: Sahih

Pengajaran:

1.  Melaknat mengikut kitab Subulus Salam ada dua makna:

a.  Mendoakan orang lain agar tidak mendapat rahmat Allah
b.  Mencaci orang lain

2.  Orang yang suka melaknat, tidak akan dapat menjadi pemberi syafaat (tidak diizinkan Allah untuk menolong saudara mereka yang beriman masuk ke syurga).

3.  Orang yang suka melaknat tidak akan menjadi saksi kepada para Rasul bahawa mereka telah menunaikan tugas dari Allah untuk menyampaikan kebenaran.

4.  Orang yang suka melaknat juga tidak boleh menjadi saksi dan tidak boleh diterima persaksian mereka kerana kefasikan. Orang yang suka  melaknat termasuk tanda orang yang menunjukkan peremehan terhadap agama.

Jauhilah dari sifat suka melaknat orang lain.

Mukmin Tidak Bersikap Buruk

No comments:

Mukmin Tidak Bersikap Buruk

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

Dari Abdullah ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berperilaku keji dan suka berkata kasar.”  (HR Tirmizi No: 1900)   Status: Hadis Hasan

Pengajaran:

1.  Seorang mukmin wajib menjauhi sifat buruk antaranya:

a.  Suka mencela (mengejek, menghina, membuka aib, memperlekeh).

b.  Suka melaknat

c.  Suka berperilaku keji (berperangai buruk)

d.  Suka berkata kasar (menyakiti orang lain)

2.  Seorang mukmin wajib memelihara lisan dan berhati-hati dalam ucapan dan tulisan.

3.  Jangan sampai pertuturan dan perbuatan, menjerumuskan kita kedalam dosa besar.

Harta Yang Baik Pada Orang Yang Baik

No comments:

Harta Yang Baik Pada Orang Yang Baik

عَنْ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ يَقُولُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

Dari Amru bin Ash berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Soleh." (HR Ahmad No: 17096) Status: Hadis Sahih

Pengajaran:

1.  Orang yang soleh ialah yang sentiasa menunaikan hak-hak Allah dan hak sesama manusia.

2.  Harta yang baik yang dimiliki oleh orang yang soleh, adalah harta yang dimanfaatkan untuk maslahah dunia dan akhirat. Ada yang digunakan untuk keperluan diri, ada yang digunakan untuk zakat, sedekah dan sumbangan pada jalan Allah.

3.  Sebaik-baik harta adalah yang dikelolakan oleh orang yang soleh.

4.  Harta yang tidak digunakan untuk kebaikan dan tidak ditunaikan hak harta, akan hilang keberkahannya.

عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنْفِقِي وَلَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَلَا تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ

Dari Asma' bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Berinfaklah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa bersedekah). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barakah rezeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR Bukhari No: 2402)

5.  Milikilah harta semampu yang boleh melalui cara yang halal asalkan kita bertakwa dan memiliki sifat qanaah.

Semoga kita menjadi sebaik-baik pemilik harta. Tunaikan hak harta yang dimiliki.

Setiap Kebaikan Adalah Sedekah

No comments:

Setiap Kebaikan Adalah Sedekah

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ وَإِنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ وَأَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ أَخِيكَ

Dari Jabir bin Abdullah ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: "Setiap kebaikan adalah sedekah. Dan di antara bentuk kebaikan adalah kamu menjumpai saudaramu dengan wajah yang menyenangkan. Dan kamu menuangkan air dari baldimu ke dalam bejana milik saudaramu." (HR Tirmizi No: 1893) Status: Hadis Hasan Sahih

Pengajaran:

1.  Setiap kebaikan yang dilakukan walau sekecil mana ia adalah sedekah dan mendatangkan pahala
.
2.  Sedekah mencakupi aspek harta,  tenaga, usaha dan, tindakan yang telus dan ikhlas dalam usaha melebarkan manfaat buat diri, masyarakat dan makhluk alam yang lain.

3.  Antara bentuk kebaikan apabila seseorang berwajah ceria dan memberikan senyuman kepada sahabat yang ditemui.

4.  Menolong orang lain dengan menuangkan air dari bekas miliknya ke dalam bekas milik saudaranya,  itu juga sedekah

Lakukanlah kebaikan semampu kita. Moga ia menjadi pahala diakhirat.

Kekayaan dan Kebahagiaan Jiwa

No comments:

Kekayaan dan Kebahagiaan Jiwa

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنْ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنْ اتَّقَى خَيْرٌ مِنْ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنْ النَّعِيمِ

Rasulullah SAW bersabda: "Tidak mengapa kekayaan bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan kesihatan bagi orang yang bertakwa kepada Allah itu lebih baik (dari kekayaan) dan kebahagiaan jiwa itu termasuk sebahagian dari kenikmatan." (HR Ahmad No:  22144)  Status: Hadis Sahih

Pengajaran:

1.  Kekayaan yang dimiliki oleh seseorang tidak tercela asalkan ia diurus dengan cara yang bertakwa.

2. Pemilik yang bertakwa akan memastikan sumber hartanya bersih lagi halal disamping menunaikan hak terhadap harta yang dimiliki.

3.  Orang kaya yang dicela apabila ia tidak menunaikan hak harta dan tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Rasulullah  bersabda, “Sesungguhnya sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rezeki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas (qanaah) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR Muslim no: 1746)

4.  Kesihatan yang dimiliki oleh orang yang bertakwa kepada Allah itu lebih baik dari harta kekayaan. Kesihatan yang dimiliki tidak boleh ditukar dengan wang ringgit dan harta.

5.  Kebahagiaan jiwa (ketenangan, ketenteraman dan kelapangan) merupakan sebahagian dari kekayaan  kenikmatan hidup.

6. Memiliki wang ringgit dan kekayaan harta belum menjamin ketenangan jiwa.

Biar berharta, asalkan memiliki sifat qanaah (merasa cukup) dan sentiasa bersyukur dengan menunaikan hak-hak harta serta jiwa pemilik harta sentiasa merasa tenang dan bahagia.

Loefa-Cebook Facebook

Al Quran Wal Hadith

Categories